Etika Tangga Jalan di Tokyo
Satu hal sepele tapi menarik dari kehidupan masyarakat Tokyo, adalah perilaku mereka di tangga jalan (escalator). Warga Jepang memiliki pola dan etika tersendiri di tangga jalan. Kelihatannya memang tidak penting. Beberapa teman bahkan pernah berujar, “Itu kan hanya tangga jalan, kenapa harus repot”. Padahal, menghargai budaya lokal adalah tanda masyarakat beradab. Banyak hal sederhana, namun bila diikuti, akan membuat warga lokal merasa senang.
Tangga jalan memang tak bisa dianggap sepele. Apalagi bila pada saat bersamaan orang melaluinya, seperti pada jam sibuk misalnya. Apabila masing-masing orang naik tangga jalan sesuka hati, tentu akan menimbulkan kekacauan. Bahkan bukan tak mungkin, terjadi kemacetan dan penumpukan orang di tangga jalan.
Di jam-jam sibuk, ada yang ingin buru-buru, ada yang ingin santai. Kalau orang-orang berdiri sembarangan di tangga jalan, hampir dipastikan terjadi kekacauan. Di banyak negara maju, tangga jalan memiliki etiket yang mengatur efisiensi pergerakan orang.
Berbeda dengan di beberapa negara lain, yang kebiasaannya adalah berdiri di sebelah kanan tangga, etiket di kota Tokyo berbeda.Kita harus berdiri di sebelah kiri (stand on the left). Jangan berdiri di kanan, ataupun di tengah.
Kalau kita berdiri di tengah atau di kanan tangga, akan mengganggu arus orang di belakang kita yang ingin lebih cepat. Namun, berdiri di kiri juga tidak selalu berlaku. Pada jam-jam sibuk, ada kalanya kedua sisi bergerak bersamaan. Kalau sudah begini, jangan coba-coba tetap berhenti di sisi kiri. Ikutilah arus orang yang naik atau turun. Istilahnya, go with the flow. Hal ini akan mempermudah kita, dan mempermudah orang lain.
Berdiri di sebelah kiri tangga jalan ternyata tidak berlaku di seluruh Jepang. Di Osaka dan bagian selatan Jepang, etiketnya berbeda lagi. Kalau mampir Osaka, etiket berdiri di tangga jalan justru di sebelah kanan. Entah bagaimana cerita dan asal muasalnya. Kabarnya, orang Osaka memang tidak mau disamakan dengan orang Tokyo. Kedua kota itu memang banyak menyimpan “persaingan”.
Satu hal lagi yang perlu diingat adalah jangan memotong antrian yang sedang naik tangga jalan. Istilahnya “don’t cut the corner”. Kadang kita ingin cepat berpindah atau naik tangga dan langsung masuk mengambil dari ujung pegangan tangga. Padahal di depan kita ada antrian. Jalanlah sedikit mengikuti belakang antrian. Perilaku memotong antrian itu dianggap tidak pantas di Tokyo.
Warga Tokyo terkenal sebagai warga yang terburu-buru. Mereka berjalan cepat dan kadang setengah berlari. Waktu sangat dihargai di kota ini. Oleh karenanya, tangga jalan bisa menjadi wahana yang merepotkan, apabila ada orang yang berdiri seenaknya. Mereka tentu tidak memprotes ataupun marah. Mereka biasanya tetap berdiri di belakang kita. Namun tentu hal ini memalukan bagi kita.
Dalam kajian etika, ada yang dinamakan etika situasional. Kebiasaan kita di suatu tempat bisa berubah dan disesuaikan tergantung pada situasi di tempat kita berada. Mungkin kebiasaan kita berjalan di sebelah kanan, atau di tengah, atau sesukanya. Namun tak ada ruginya mengikuti kebiasaan lokal ini. Malahan kita jadi dianggap warga masyarakat yang beradab.
Selamat menaiki tangga jalan di tempat anda (tentu dengan aturan lokalnya masing-masing - kalau ada). Salam.
![]()
Bunga-bunga di sekeliling Pak Darmin
Darmin Nasution, Deputi Gubernur Senior BI, sudah hampir 20 tahun bertanam bunga anggrek. Kecintaannya pada bunga anggrek sungguh mendalam. Dan ia tak mau sembarangan mengoleksi bunga anggrek. Pak Darmin hanya menanam anggrek jenis Dendrobium berbagai spesies. Anggrek yang aslinya berasal dari Papua tersebut, memang tidak seindah anggrek hibrida. Namun menurut pak Darmin, Dendrobium lebih menantang dalam perawatan. Kecintaan pak Darmin pada anggrek tersebut terlihat dari bagaimana ia meluangkan waktu untuk mengurus bunga kesayangannya.
Namun, sejak masuk Bank Indonesia, pak Darmin kini mulai mencintai bunga selain anggrek. Bunga yang ini juga menantang dalam perawatannya. Di BI, pak Darmin harus mengelola bunga BI Rate. Ada juga bunga pasar uang, bunga deposito, dan yang paling merepotkan saat ini adalah bunga kredit. BI Rate yang sudah turun 300 basis points, atau 3%, sejak Desember 2008, belum memberikan dampak signifikan pada turunnya bunga kredit. Dalam berbagai kesempatan, di parlemen, di seminar, maupun saat bertemu wartawan, pertanyaan pada pak Darmin bukan soal bunga anggrek, namun soal bunga kredit.
Berbagai pihak menuntut Bank Indonesia untuk lebih tegas lagi kepada perbankan, agar bunga kredit dapat diturunkan. Mampukah BI memaksa bank untuk menurunkan bunga kredit? Hal itu sebenarnya bisa saja dilakukan. Namun kalau itu dilakukan, BI Rate menjadi tidak optimal dan transmisi kebijakan moneter semakin tidak bekerja. Di sisi lain, apabila bank menyalurkan kredit dengan paksaan, tentu risiko kredit macet dalam beberapa tahun ke depan akan meningkat. Kredit akan dikeluarkan dengan “terpaksa” meski risiko dunia usaha saat ini masih tinggi. Dan tentu, apabila kredit macet terjadi, bank akan menyalahkan kembali Bank Indonesia yang dulu memaksa penyaluran kredit.

Pak Darmin diwawancara ttg Bunga Kredit / photo by Junanto
Banyak pengamat dan pelaku usaha sebenarnya memahami alasan mengapa bunga kredit belum turun. Mulai dari tingginya biaya dana bank, potensi risiko dan NPL, persaingan yang ketat antar bank, hingga yield SUN yang masih tinggi. Selain itu, permasalahan kredit tak dapat dilihat dari sisi penyalurannya saja. Di sisi permintaan, juga terjadi pelemahan. Kalau kita lihat jumlah kredit yang belum ditarik (undisbursed loans) oleh nasabah, sampai dengan Juni 2009 mencapai Rp. 396 triliun, atau meningkat dibandingkan bulan Desember 2008, yang sebesar Rp246 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa uang sebenarnya ada di perekonomian, namun hendak diapakan uang tersebut menjadi masalah tersendiri yang harus diselesaikan. Berbagai masalah struktural khususnya di sisi efisiensi dan kepercayaan pada prospek ekonomi ke depan, menjadi faktor penting dunia usaha dalam menjalankan usahanya.
Sebenarnya ada tiga instrumen yang terus dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mendorong perbankan lebih responsif dalam menurunkan suku bunga perbankan. Instrumen tersebut antara lain meliputi “instrumen kebijakan moneter”, “instrumen kebijakan perbankan”, and “instrumen koordinasi”.
Instrumen kebijakan moneter telah digunakan dengan penurunan BI rate sebesar 300 bps, sebuah pelonggaran yang terbesar dalam sejarah kebijakan moneter. Dari sisi kebijakan perbankan, upaya-upaya yang telah dilakukan akan ditingkatkan dengan lebih meningkatkan efisiensi di sisi perbankan sehingga suku bunga kredit dapat diturunkan. Untuk mendorong kredit, BI juga akan meningkatkan peran sistem informasi debitur untuk mengurangi kesenjangan informasi antara bank dan nasabah debitur. BI juga akan mendorong meningkatnya kompetisi yang sehat dalam pasar kredit termasuk kredit untuk UMKM. Semakin sehat kompetisi tersebut maka biaya bunga kredit dapat semakin ditekan.

Penurunan Bunga BI Rate / sumber : BI
Yang paling penting adalah instrumen koordinasi. Instrumen ini sangat krusial mengingat upaya mengefektifkan kebijakan moneter ini tidak dapat hanya mengandalkan pada instrument-instrumen moneter. Ada daerah-daerah persinggungan dengan aspek fiskal dan bahkan aspek hukum yang harus kita cari jalan keluarnya bersama-sama dengan otoritas fiskal dan BUMN.
Mengelola perekonomian tentu ada kesamaannya dengan merawat bunga anggrek. Ia butuh kompetensi, ketekunan, keahlian, dan yang paling penting, kesabaran. Indahnya bunga anggrek tak bisa dilihat dalam semalam. Mungkin begitu pula dampak suku bunga BI Rate pada suku bunga kredit, jalurnya panjang dan berliku. Butuh kesabaran.
Di tengah upaya menurunkan bunga kredit tersebut, mudah-mudahan pak Darmin masih punya waktu untuk merawat bunga anggreknya.
Salam
Tangki Minyak Nenek
Saat kecil, saya paling senang kalau tinggal di rumah nenek. Bagi saya, nenek adalah figur yang begitu dekat dan melekat di hati. Cinta kasihnya terasa berlimpah dan memberikan kebahagiaan pada saya. Cinta itu terus saya rasakan hingga saat ini. Kalau nenek tersenyum, kalau nenek bahagia, saya ikut bahagia.
Nenek memiliki sebuah pangkalan minyak tanah. Ia adalah agen penyalur minyak tanah di daerah Kemayoran. Selain minyak tanah, nenek juga kadang menjual produk turunan seperti oli dan beberapa pelumas lainnya. Kami, para cucunya, kerap menyebut pangkalan itu sebagai “ Pangkalan Minyak Tanah Ibu Ramelan”. Sudah lebih dari 25 tahun pangkalan itu ada di sana dan membantu menghidupi nenek. Kalau saya menginap di rumah nenek, saya selalu mendampingi nenek beraktivitas di pangkalan itu. Ia mengawali hari dengan membuka pangkalan, mengawasi para tukang minyak, melayani pembeli, hingga senja hari datang untuk menutup pangkalan. Di tengah kesibukannya, nenek tetap memberi perhatian pada saya. Ia menyiapkan teh manis, kue camilan, dan menjaga saya setiap saat, sambil tetap mengawasi pangkalannya. Sebuah gambaran hangat tentang cinta kasih.
Satu ikon dari pangkalan minyak nenek adalah keberadaan sebuah tangki minyak yang besar di halaman rumah. Buat para tetangga dan pelanggan, tangki minyak itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rumah nenek. Posturnya yang unik seolah menjadi semacam ornamen bagi kelengkapan rumah. Kehadirannya telah menemani nenek sejak 25 tahun terakhir, khususnya sejak berpulangnya kakek di tahun 1989.
Tangki itu bagai soulmate, atau belahan jiwa nenek. Di usianyanya yang uzur, mendekati 87 tahun, pangkalan itu tetap menjadi bagian dari kehidupannya. Melalui pangkalan itu, nenek dulu sanggup menyekolahkan anaknya, bahkan kadang secara gembira membagikan uang pada cucunya, termasuk saya. Belakangan, saya menyarankan nenek untuk menutup pangkalan itu karena usia nenek yang makin lanjut. Namun nenek tak pernah mau. Pangkalan minyak adalah kesehariannya. Pangkalan yang membuatnya tetap bergerak dan tetap memiliki gairah untuk hidup. Sayapun tak bisa apa, selain memandang nenek di usia rentanya tetap melayani pembeli dari hari ke hari.
Satu hal besar datang di penghujung tahun 2006. Itulah malapetaka bagi nenek. Saat itu, krisis ekonomi global mulai merambat ke perekonomian Indonesia. Harga minyak dunia melejit naik. Pemerintah kedodoran menangani anggaran. Biaya subsidi minyak membengkak dan membebani keuangan pemerintah. Minyak tanah mulai sulit didapatkan. Satu hari, dua hari, bahkan satu bulan, nenek tidak mendapat kiriman minyak tanah dari agen. Para konsumen mulai mengeluh. Ibu Ramelan, si nenek, tak kurang sedihnya.
Pemerintahpun kemudian mengeluarkan keputusannya. Keputusan yang seolah menjadi palu godam bagi kelangsungan usaha nenek. Keputusan itu adalah melakukan pengurangan konsumsi minyak tanah dan menggantinya dengan gas. Sebanyak 3,5 juta rumah tangga yang kehidupan sehari-harinya tak lepas dari minyak tanah, harus beralih pada gas. Konversi minyak tanah ke elpiji pun mulai diberlakukan. Di lapangan, prosesnya tak mudah. Nenek diombang ambing dalam kegalauan dan kebimbangan. Ingin pindah menjadi agen elpiji, namun prosesnya panjang dan berliku. Berbagai perijinan ditambah dengan kesulitan pasokan, sungguh mengurangi minat nenek. Apalagi di usianya yang makin lanjut. Kecintaannya pada pangkalan minyak tanah jauh lebih tinggi dari niatnya untuk beralih jadi penyalur elpiji. Romantika dan nostalgia bersama si Tangki minyak tanah seolah tak tergantikan. Akhirnya, pangkalan minyak tanah Ibu Ramelan pun tutup.

tangki minyak nenek
Dua tahun lebih tangki minyak tanah nenek teronggok kosong di halaman rumah. Nenek hanya mampu menatap si Tangki setiap pagi hingga sore menjelang. Mengenang masa indah dan manis bersama Tangki yang telah menghidupinya dalam 25 tahun terakhir. Puluhan orang datang menawar tangki agar dijual kepada mereka. Mulanya nenek bersikukuh tidak ingin menjual si Tangki.
Namun, demi kecintaannya juga pada si Tangki, nenek akhirnya menjual tangki. “Daripada ia tidak bermanfaat kemudian karatan, kasihan..,” demikian nenek berkata pada saya. Dan malam itu, tangki minyak dijual kepada seorang agen penyalur solar untuk kapal laut. Tangki akan dibawa ke pangkalan solar lepas pantai dan akan diletakkan di sana.
Pagi hari, sebelum tangki dibawa pembeli, nenek duduk di depan tangki. Diam-diam, saya menguping dialog yang mengharukan antara nenek dan tangki. Nenek berkata lirih, “Tangki, ibu minta maaf ya musti jual tangki. Terima kasih atas bantuan tangki selama ini buat ibu. Kamu baik-baik ya di sana nanti….”. Andai tangki itu bisa bicara, saya yakin ia akan membalas dengan ungkapan lirih. Malam itu, para cucu mengabadikan momen-momen bersejarah pemindahan si Tangki. Sementara sang nenek, menutup dirinya di dalam kamar. Tak sanggup melihat tangki harus pergi dari rumahnya. Pergi untuk selamanya.
Nenek yang kusayang tak pernah memahami apa yang terjadi pada perekonomian global. Ia terlalu jauh untuk itu. Ia hanya seorang tua yang mencoba untuk memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Menyediakan minyak tanah bagi mereka yang membutuhkan. Nenek tak paham kenapa minyak tanah langka. Ia tak paham ekonomi. Yang ia tahu adalah bahwa tangki yang selama ini menemaninya harus pergi meninggalkannya. Sebuah keputusan dari pemerintah telah memisahkan dirinya dengan tangki si belahan hati. Nenek kini lebih banyak diam di kamar. Kalau nenek sedih, sayapun ikut sedih.
Belajar Ningrat pada Machiavelli

Niccolo Machiavelli (1469-1527)
Politisi sangat menghindari diri apabila dikaitkan dengan praktik Machiavelli. Di era kampanye seperti saat ini, mereka pantang kalau disebut pengikut Machiavelli. Nama Niccolo Machiavelli (1469 - 1527) memang sering dihubung-hubungkan dengan praktik-praktik busuk kekuasaan. Misalnya, taktik “Machiavellian” seorang diktator. Gagasannya juga sering dituduh amoral dan menyimpang dari suara hati yang sehat. Akan tetapi, di dalam hati terdalam politisi, banyak yang mengakui bahwa Machiavelli adalah seorang genius yang sangat besar peranannya dalam sejarah dan peletak fundamental ilmu politik modern. Pikiran Machiavelli, meski dikecam, diam-diam atau terang-terangan ternyata menjadi praktik politik di banyak negara.
Di balik pendapat orang bahwa ia seorang politikus yang layak dihujat, Machiavelli memiliki watak ningrat yang luhur. Machiavelli sebenarnya adalah seorang tokoh yang berjiwa besar. Simak kata-kata dalam bukunya yang terkenal, “Sang Pangeran (Il Principe)”. Ia mengatakan “Seorang pangeran tak boleh mencuri harta rakyatnya, karena manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya, daripada kehilangan bagian warisannya”.
Tak boleh mencuri harta rakyat adalah ciri dari watak ningrat Machiavelli. Janganlah sekali-kali kita makan uang rakyat. Itu pesan dari Machiavelli. Seorang penguasa, memiliki kewenangan untuk melakukan apa saja. Ia bisa membuat aturan untuk dirinya sendiri, dan ia tak mesti patuh pula pada aturan itu. Di sini kemudian muncul pasase power tend to corrupt, kekuasaan cenderung korup. Machiavelli mengingatkan para penguasa untuk mampu menyeimbangkan kekuasaannya dengan kepentingan rakyat. Mencuri harta rakyat berarti juga memanfaatkan jabatan demi kepentingan diri sendiri.
Machiavelli menyadari adanya tendensi korup tersebut. Di buku selanjutnya, Discourse on the First Ten Books of Titus Livy, ia bercerita tentang bentuk negara yang ideal, dengan konsep negara yang berbentuk Republik. Di sini penguasa tak lagi dapat melakukan keinginan sekehendak hati. Ada sesuatu yang membatasi wewenang penguasa, yaitu rakyat. Dalam buku ini kehendak rakyat di beri ruang yang luas. Kemerdekaan adalah lambang utama yang harus ditegakkan. Penguasa tidak boleh memaksakan kehendaknya, penguasa hanya boleh menjadi penjaga agar kemerdekaan itu tetap terjamin. Dalam buku ini, Machiavelli membayangkan suatu negara yang benar-benar ideal, suatu negara yang jauh dari perselisihan, perpecahan dan konflik. Suatu negara yang dilandasi kedewasaan warga negaranya.
Kemerdekaan pilihan itu menjadi dasar pandangan ekonomi dari Machiavelli. Ia adalah pendukung utama kebebasan individu, aneka pilihan sukarela atau fakultatif. Kebebasan ini menjadi penting dalam kehidupan berekonomi suatu negara saat ini. Kaum petani, kaum pedagang, dan pelaku UMKM di sektor kerakyatan, perlu memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya. Dengan kebebasan ini, sektor kerakyatan tidak akan terbelenggu oleh kekuasaan para tengkulak ataupun penguasa. Mereka memiliki keleluasaan mendapatkan sumber daya yang lebih efisien dan menguntungkan hingga pada gilirannya mensejahterakan kehidupan mereka.
Memahami Machiavelli memang tak bisa dengan hanya melihat dari sisi gelapnya. Machiavelli juga menyimpan nilai luhur. Kalau kita tetap mencuri harta rakyat, memanfaatkan kuasa demi kepentingan sendiri, dan menekan kebebasan rakyat dalam ekonomi, bisa jadi kita lebih kejam dari Machiavelli. Mudah-mudahan bukan begitu yang dimaksud para politisi yang saat ini sedang ramai kampanye. Mudah-mudahan bukan karena itu mereka tak mau dikaitkan dengan Machiavelli. Dan mudah-mudahan bukan itu yang dimaksud dengan “Pantang Menerapkan Machiavelli”.
Salam.
Menakar Inflasi di tengah Pengkhianatan FPI
Krisis ekonomi global telah mengubah paradigma berbagai negara dalam memandang inflasi. Sebelumnya, hingga pertengahan 2008, pandangan hampir seluruh bank sentral di dunia adalah mengendalikan tekanan inflasi yang meningkat. Namun, krisis yang semakin dalam telah mengubah pandangan itu. Kini, banyak bank sentral lebih khawatir pada tertekannya pertumbuhan ekonomi.
Di satu sisi, inflasi adalah musuh bangsa yang paling berbahaya. Ernest Hemingway bahkan pernah menulis bahwa inflasi lebih berbahaya dari perang. Keduanya bisa merenggut harta, kehidupan, dan nyawa, dengan cara yang kejam. Inflasi yang tinggi merenggut kebahagiaan masyarakat secara umum. Untuk itulah negara-negara di dunia membentuk sebuah bank sentral yang ditugasi untuk mengurus inflasi.
Dalam menjalankan tugas pengendalian inflasi itu, bank sentral sepanjang perjalanan zaman menggunakan berbagai cara dan strategi kebijakan moneter. Dan dalam beberapa tahun belakangan ini, lebih dari 42 bank sentral di dunia, termasuk Indonesia, menerapkan sebuah kerangka kebijakan moneter yang disebut Inflation Targeting Framework (ITF). Dalam kerangka ini, kebijakan moneter bank sentral ditargetkan untuk mencapai sasaran inflasi di jangka menengah panjang. Inflasi menjadi satu-satunya target bank sentral dalam mewujudkan kredibilitas kebijakan moneternya. Dalam menerapkan ITF, peranan inflation forecast targetting, atau peramalan inflasi menjadi penting. Inflasi untuk jangka menengah diramalkan pada saat ini dan instrumen suku bunga digunakan untuk menembak sasaran itu.

Diagram Fan, untuk meramal inflasi
Begitu di-imani-nya kerangka kerja ITF ini melahirkan beberapa pendukung yang fanatik. Terpecahlah pemikiran-pemikiran di bank sentral beberapa negara. Ada kaum akomodatif, yang melihat peran bank sentral juga harus akomodatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan ada kaum fanatik yang “madhep manthep ndherek ITF” (membela ITF mati-matian). Kelompok terakhir ini kerap disebut dengan istilah FPI (Front Pembela ITF). Keyakinan mereka adalah bahwa ITF merupakan kerangka kerja yang harus dijalankan secara terukur dan mekanistis. Inflasi harus menjadi tujuan utama tugas bank sentral. Inflasilah alasan keberadaan asali dari bank sentral sejak dahulu.
Dan terjadilah krisis keuangan global yang mengubah kredo tersebut. Saat ini, inflasi bukan sebuah persoalan utama. Anjloknya harga komoditas dunia dan melambatnya ekonomi global telah menurunkan tekanan inflasi secara signifikan. Fokus perhatian dunia kini tak lagi pada inflasi, tapi justru menciutnya pertumbuhan ekonomi.
Respons kebijakan moneter seluruh bank sentralpun seragam dalam mengatasi krisis global, yaitu memangkas suku bunga secara agresif. Namun, langkah terus menerus memangkas suku bunga bisa kehilangan efektivitasnya. Di beberapa negara, bahkan suku bunga kebijakan telah mendekati nol persen, seperti yang terjadi di Amerika dan Inggris. Meski tingkat suku bunga sudah di angka sekitar nol persen, perbankan tak serta merta mengikuti penurunan tersebut dengan menurunkan bunga kreditnya. Ekonomi juga belum mengeliat dan bergerak. Berbagai cara alternatif kebijakanpun dicari untuk mendorong ekonomi. Stimulus fiskal oleh pemerintah, dan dukungan likuiditas oleh bank sentral pada perekonomian. ITF yang selama ini mereka pegang, untuk sementara terlupakan. Fokus dari bank sentral di berbagai negara adalah mencari instrumen selain suku bunga untuk mendorong perekonomian.
Di Indonesia sendiri, tekanan inflasi ke depan diperkirakan masih rendah. Inflasi untuk keseluruhan 2009 diperkirakan hanya berada pada kisaran 5%. Perhatian utama bank sentral adalah bagaimana mendorong geliat ekonomi agar daya beli masyarakat tidak terlalu anjlok. Masyarakat yang sudah tertekan akibat krisis, jangan sampai lebih tertekan lagi.
Beberapa bank sentral telah mencari cara baru untuk mendorong kegiatan ekonominya, selain melalui penurunan suku bunga. Kebijakan ini, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang akomodatif, namun juga oleh para anggota FPI, pendukung ITF. Menyikapi krisis global, tak apalah sekali-kali mengkhianati FPI
:)
Salam.
Sekaleng Coca Cola seharga 15 Milyar

sepuluh juta dollar
Ini sungguh terjadi. Harga sekaleng Cola mencapai 15 miliar. Harga dua kilo gula pasir mencapai 20 miliar. Kertas tissue, toilet paper, sabun, dan sikat gigi, harganya miliaran. Dan harga tersebut dalam satu hari bisa meningkat dua kali lipat. Mungkin bulan depan, sekaleng Cola bisa berharga satu triliun. Kenapa jadi mahal begitu? Karena hampir seluruh warga Zimbabwe kini menjadi miliarder. Bukan hanya miliarder, bahkan triliuner. Tanggal 17 Januari 2009 lalu, Bank Sentral Zimbabwe menerbitkan lagi uang kertas senilai 10 triliun dollar Zimbabwe dan rencananya akan segera menerbitkan 20, 50, dan 100 triliun dollar Zimbabwe. Anda ingin jadi miliarder, pergilah ke Zimbabwe.
Namun uang triliunan dollar di Zimbabwe nyaris tiada arti saat dibawa ke pasar. Uang 20 miliar dollar Zimbabwe nilainya sama dengan 6000 rupiah. Uang 10 triliun kira-kira sama dengan 300 ribu rupiah. Itulah kondisi perekonomian di Zimbabwe yang dilanda hiperinflasi. Barang-barang menjadi langka, perekonomian mengalami depresi, dan inflasi mencapai jutaan persen. Rakyat hidup dalam kesulitan. Dalam ilmu ekonomi, hiperinflasi adalah sebuah kondisi saat inflasi melejit tinggi tak terkontrol.
Hiperinflasi di Zimbabwe adalah salah satu kondisi terburuk sepanjang sejarah. Yang terparah di Hungaria pasca perang dunia ke II. Saat itu, inflasi mencapai 12,950,000,000,000,000 (12 quadrillion) persen, dengan harga melonjak dua kali lipat setiap 15 jam. Hiperinflasi lain pernah terjadi di Jerman pada tahun 1923. Di Jerman, inflasi meroket 30% per bulan dengan harga meningkat dua kali lipat setiap 3 hari. Di Zimbabwe, inflasi naik lebih dari 100% per bulan dengan harga meningkat dua kali lipat setiap 1,3 hari. Saat menerima uang, warga Zimbabwe harus segera membelanjakannya. Kalau lewat sehari saja, nilainya tergerus setengahnya.
Penyebab hal ini adalah pengelolaan ekonomi yang buruk oleh Presiden Mugabe. Gejolak politik dan sosial telah mengacaukan Zimbabwe. Hal yang dilakukan oleh pemerintahan Mugabe untuk mempertahankan kekuasaannya adalah mencetak uang secara besar-besaran. Uang dipakai untuk membayar gaji pegawai, tentara, dan belanja pemerintah. Uang beredarpun tumbuh tak terkendali menjadi akar dari hiperinflasi. Menghadapi masalah yang timbul, Mugabe justru memerintahkan bank sentral Zimbabwe untuk terus mencetak uang. Bank Sentral Zimbabwe adalah kementrian yang berada di bawah kekuasaannya. Gubernur Bank Sentral Zimbabwe, Dr Gideon Gono, dengan sendirinya patuh pada perintah Mugabe. Dengan uang beredar yang meningkat berkali lipat, inflasi terus menanjak.
Indonesia pernah mengalami hiperinflasi pada tahun 1965. Saat itu inflasi di Indonesia mencapai lebih dari 600%. Sumber permasalahannya sama, terlalu banyak uang dicetak untuk membiayai revolusi dan berbagai pengeluaran lainnya. Setelah kejadian itu, hiperinflasi tidak pernah terjadi lagi di negeri ini. Mudah-mudahan ke depan juga begitu. Inflasi pernah melejit tinggi mencapai 72% saat krisis ekonomi tahun 1997/98 dan mencapai 17% saat kenaikan harga minyak di tahun 2005. Tahun 2008 lalu, saat krisis global melanda, harga minyak dunia meningkat dan mendorong kenaikan BBM serta harga-harga dalam negeri. Namun inflasi untuk tahun 2008 masih dapat dikendalikan pada tingkat 11,06%.
Tingginya inflasi merepotkan kehidupan rakyat. Harga-harga melonjak tinggi dan masyarakat kehilangan daya beli, khususnya mereka yang berpenghasilan tetap. Benar apa yang dikatakan Ernest Hemingway, bahwa inflasi lebih berbahaya dari perang. Inflasi adalah perampok diam-diam yang menggerus uang dari kantong setiap warga masyarakat. Perlahan tapi pasti, masyarakat bertambah miskin karena inflasi.
Oleh karenanya, upaya mengendalikan inflasi menjadi kepedulian setiap negara. Kita tidak ingin inflasi membuat rakyat bertambah miskin. Guna menjaga dan mengendalikan inflasi, peranan bank sentral sangat strategis dalam perekonomian. Bank sentral yang tidak independen, seperti yang terjadi di Zimbabwe, kerap menjadi alat politisi dalam menjalankan kebijakan politiknya, misalnya mencetak uang secara terus menerus. Indonesia sejak tahun 1999 telah memiliki undang-undang yang mengatur independensi bank sentral. Upaya ini bertujuan untuk mensterilkan peranan bank sentral dalam pengendalian inflasi.
Sejak beberapa dekade terakhir ini, bank sentral di seluruh dunia sangat ketat mengontrol inflasi, melalui sebuah kerangka kerja yang dinamakan Inflation Targeting Framework (ITF). Maksudnya adalah, bank sentral mengelola tingkat inflasi pada level tertentu dan menjaganya agar tidak melonjak dari kisaran yang sudah ditentukan. Apabila inflasi diperkirakan melampaui target, Bank sentral harus siap meredam inflasi. Sumber inflasi bisa bermacam-macam, mulai dari kenaikan harga barang yang dikendalikan pemerintah, kelangkaan makanan, pelemahan nilai tukar, ataupun meningkatnya permintaan yang tidak diimbangi oleh penawaran. Bank Sentral perlu memahami sumber inflasi sebelum melakukan respon dalam kebijakan moneternya.
Apakah dengan ITF kemudian bank sentral melupakan pentingnya pertumbuhan ekonomi? Krisis global saat ini menunjukkan bahwa kebijakan ITF bersifat fleksibel. Dalam jumpa pers awal tahun, Gubernur Bank Indonesia, Dr Boediono, mengatakan bahwa inflasi tetap menjadi perhatian Bank Indonesia. Namun dengan semakin turunnya tekanan inflasi akibat melemahnya perekonomian global, perhatian kiranya dapat diberikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Daya beli masyarakat perlu dijaga agar tidak semakin melemahkan perekonomian. Oleh karenanya, rangsangan yang diberikan oleh kebijakan moneter adalah penurunan suku bunga yang akan terus dilakukan sepanjang tidak mengganggu stabilitas. Jadi di sini terlihat bahwa ITF bukanlah sebuah mekanisme yang kaku. Ia juga fleksibel dalam pengelolaan ekonomi negeri.
Mudah-mudahan apa yang terjadi di Zimbabwe tak akan pernah terjadi di negeri ini. Untuk itu, pengendalian inflasi secara konsisten memang sebaiknya diserahkan pada bank sentral yang independen. Salam.
Negara Paling Bahagia Sedunia
Indonesia adalah negara yang masyarakatnya cukup bahagia di dunia. Jauh lebih bahagia dari masyarakat Jepang, Rusia, bahkan China. Krisis ekonomi yang menimpa, indikator ekonomi yang pas-pasan, kemiskinan dan pengangguran yang tinggi, bencana yang kerap datang, tak membuat masyarakat Indonesia bersedih dan jauh dari bahagia. Secara umum, survei ini pernah dimuat di Majalah Time edisi januari 2004 yang menulis sebuah laporan tentang “Sains Kebahagiaan”. Hal menarik dari tulisan itu adalah penelitiannya pada berbagai negara untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi, kekayaan, dan pendidikan yang tinggi, membawa kebahagiaan bagi penduduknya.
Selama ini, GDP atau Gross Domestic Product selalu dijadikan acuan tingkat kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. GDP dicerminkan oleh komponen Konsumsi, Investasi, Pengeluaran Pemerintah, Ekspor, dan Impor (C+I+G+X-M). Semua komponen itu dihitung dengan satuan uang. Dengan demikian, uang diasumsikan dapat membawa pertumbuhan dan kesejahteraan. Apakah benar demikian? Survei menunjukkan bahwa negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, ternyata tidak otomatis menjadi negara yang bahagia. Sebaliknya, negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi pas-pasan atau bahkan ada yang miskin, bukan berarti pula menjadi negara yang tidak bahagia.
Lantas, apa yang membuat kita bahagia. Riset yang dilakukan para ilmuwan dari Universitas Pennsylvania mengambil beberapa hal yang diindikasikan dapat membawa kebahagiaan. Kekayaan sebagai contohnya, dan segala hal yang bisa dibeli dengan uang. Ternyata, hal itu tidak membawa bahagia. Semakin tinggi pendapatan seseorang, justru kebahagiaannya menurun. Sementara itu, mereka yang berpenghasilan rendah, justru bisa merasakan bahagia. Pendidikan yang tinggi? Tidak juga. Mereka yang memiliki IQ tinggi bukan jaminan kebahagiaannya juga tinggi. Masa Muda? Lagi-lagi bukan. Faktanya, justru banyak orang tua yang lebih menikmati dan puas akan hidupnya ketimbang yang muda. Pernikahan? Jawabannya agak rumit. Memang kebanyakan pasangan yang menikah lebih bahagia daripada yang tidak menikah, namun hal itu diperdebatkan di hasil survei. Sebagian berpendapat bahwa kebahagiaan perkawinan sangat tergantung pada bagaimana mereka mengelola dan memulai sebuah perkawinan.
Survei menunjukkan bahwa ada dua hal utama yang membuat orang bahagia. Pertama, iman kepada Tuhan atau agama. Apapun agamanya, apabila orang meyakini agama, umumnya mereka lebih bahagia daripada yang tidak beragama. Kedua, teman, sahabat, keluarga, istri, anak, atau cucu. Ya, sebuah studi lanjutan yang dilakukan oleh Universitas Illinois di tahun 2002 menunjukkan bahwa masyarakat yang memililki kebahagian tertinggi pada umumnya adalah mereka yang memiliki orang-orang dekat. Mereka yang penyendiri pada umumnya lebih cepat mengalami depresi.
Hasil survei yang dilakukan para ilmuwan di berbagai negara mendapatkan hasil yang beragam. Negara-negara dengan kekayaan dan pertumbuhan tinggi, seperti Switzerland misalnya, masuk dalam kategori negara yang memiliki kebahagiaan tinggi. Namun ada negara yang pertumbuhannya tinggi dan kekayaan masyarakatnya juga tinggi, justru tidak bahagia. Jepang adalah salah satu contohnya. Tingkat depresi, stress, dan bunuh diri jumlahnya tinggi di Jepang.
Sementara itu, ada negara yang masuk kategori berpenghasilan pas-pas-an, namun memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi. Negara itu adalah Indonesia dan Filipina. Nah, Indonesia masuk dalam kategori negara yang memiliki kebahagiaan tinggi, meski kalau melihat dari indikator ekonominya, kebahagiaan itu memang tak tercermin. Pertumbuhan ekonomi Indonesia “hanya” berada dalam kisaran 4-6%, cadangan devisa Indonesia pas-pasan pada sekitar 50 milyar dollar AS (bandingkan dengan Bill Gates yang seorang diri saja kekayaannya mencapai sekitar 60 milyar dollar AS), dan utang luar negeri yang masih tinggi. Selain itu, bencana kerap datang tak henti di negeri ini.
Namun rupanya berbagai hal itu tidak terkait dengan masih bahagianya bangsa kita. Dalam berbagai kondisi, selalu ada cara yang membuat kita bahagia. Modal tawakal, kekerabatan yang kuat, serta keyakinan pada Yang Maha, mungkin bisa menjadi benteng dalam membangun kebahagiaan di tengah kesulitan saat ini.
Apakah itu semua cukup? Tentu tidak. Lama kelamaan kebahagiaan ini bisa luntur. Kebahagiaan bukan sesuatu yang mudah diraih dan harus senantiasa dipertahankan. Raja Bhutan pernah memperkenalkan istilah GDP of Happiness yang mengukur bukan hanya tingkat pertumbuhan negeri, tetapi juga tingkat kebahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan, dukungan kepada rakyat perlu diberikan dalam bentuk perhatian dan fokus pada pengembangan kekuatan masing-masing elemen bangsa. Keseimbangan antara alam, spiritual, dan manusia menjadi fokus kebijakan pemerintah. Semata mendorong pertumbuhan ekonomi, apalagi dengan memberi uang, tidak akan menjamin tercapainya kebahagiaan. Mungkin hanya mampu meraih kesenangan sesaat. Dan itu, bukan kebahagiaan.
Bukankan tujuan para pendiri bangsa di manapun adalah mengejar kebahagiaan? Kalimat terkenal dalam Deklarasi Independen Amerika adalah, “Life, liberty, and the pursuit of happiness “. Itulah sebuah amanat untuk meraih kebahagiaan.
Sementara, kalimat terkenal di pembukaan UUD 45 kita adalah, “… Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesiatelah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Ujungnya, merdeka, berdaulat, adil, dan makmur, adalah cara untuk mencapai kebahagiaan….
Mudah-mudahan kita masuk dalam kelompok orang yang berbahagia.
Halo dunia!
Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!